Take and give
prophetic management
By; Agus Siswanto
CEO PT Bakti Insan Globalindo (BIG Consulting)
Ilmu marketing hanyalah sebagai sebuah pendekatan saja. Dalam propetic management justru kekuatan ilahiah ya harus menjadi perhatian.
Sering kali oramg bertanya-tanya , mengapa tiba-tiba seseorang menjadi sangat dermawan,pemurah,atau menjadi sanagat ringan tangan dalam membantu orang lain yg tengah mengalami kesulitan.beragam alasan bisa kita dapatkan.bukan tidak mungkin, seseorang menjadi demawan karena ingin dipuji dan disanjung sebagai seorang yg suka berderma.
Seseorang bisa menjadi sangat pemurah ,karena berharap bisa mendapatkan sesuatu dari yg telah diberikan kepada orang lain .atau mungkin seseorang menjadi sangat ringan tangan karena ada pamrih tertentu.secara umum,memberi adalah aktivitas yg menyebabkan berkurangnya sesuatu yg kita miliki. karena itu ketika kita memberi kepada orang lain akan mengurangi ”apapun ” yg kita miliki.
Ditijau dari sisi perhitungan apapun,memberi berarti mengurangi asset yg kita miliki dan .itu merupakan gambaran dari sisi kehidupan duniawi. sementara dari sisi agama , banyak sekali aturan perintah atau himbauan agar kita menjadi orang ”yang bersifat pemberi atau menjadi orang yg dermawan . Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pernah terjadi seseorang yang dermawan, dan ikhlas karena dorongan agama kemudian menjadi bangkrut ? Jawabannya : Tidak !!! belum pernah terjadi dalam sejarah orang yg sangat dermawan , rajin memberi kemudian bangkrut,mengapa ??
Rahasia tentang masalah ini sebenarnya terletak pada pemahaman dan implementasi Tauhid seseorang , yakni sejauh mana keyakinan seseorang meyakini perintah-perintah Allah dan Rasullnya secara hukum duniawi, ketika kita memberi maka dengan sendirinya berkuraah aset yg kita miliki, akan tetapi Allah dengan ke Mahaan-Nya memiliki skenario tersendiri untuk menambah aset tersebut dengan beragam cara, bentuk dan metode, baik langsung maupun tidak langsung ,sehingga aset si pemberi tadi menjadi bertambah . itulah yg kita namakan Take (mengambil) dari Allah SWT . untuk mendapatkannya kita harus mau Give (memberi)
Fenomena dalam bisnis
Salah seorang CEO BUMN pernah bercerita bahwa dia sama sekali buta dengan ilmu marketing tetapi fakta menunjukan bahwa dialah yg justru mampu memberi kontrisbusi market terbesar dibanding dengan divisi atau direktorat pemasaran lain di perusahaannya ,apa rahasianya ? , ”Saya setiap ketemu dengan calon klien atau siapapun yang berpotensi menjadi klien saya, maka yg terpikir oleh saya adalah niat ikhlas untuk dapat memberi atau dapat berkontribusi bagi kemajuan perusahaan si klien tersebut”.
Kebetulan si CEO tersebut memiliki talenta yang meyakinkan dalam bidang “ financial enginering”. Kemanapun dia silaturahim , dimanapun dia bertemu klien, hal yang pertama kali yang ditawarkan bukanlah produk perusahaaanya , akan tetapi sapaan lembut, bersahaja, penuh sopan santun. ”Apa yang bisa kami bantu untuk perusahaan bapak? Kebetulan saya punya kompetensi ini dan itu, kebetulan saya punya network kesana dan kesitu, barang kali ada yg bisa di manfaatkan ”. Dan rata-rata para klien dengan senang hati menyambut uluran tadi , jadilah si CEO tadi menjadi konsultan yang free of charge bagi para kolega,sahabat,mitra bisnis dan relasinya.
Pada suatu saat tatkala si CEO tersebut asyik menyimak paparan “progress report” dari direktur marketing dan jajarannya tentang susahnya menembus perusahaan-perusahan yang menjadi target” marketnya” , tiba-tiba telpon di seberang sana berdering. Seorang bos sebuah perusahaan menanyakan apakah produk perusahaannya (mesin) dapat diuji coba di tempat bos tadi .
Seketika CEO tadi meminta kepada direktur pemasaran dan jajarannya agar menindak lanjuti tawaran uji coba tadi, dengan serta merta mereka terbengong bengong karena perusahaan yg bosnya menelepon itu merupakan salah satu perusahaan yang selama ini sangat sulit di tembus oleh tim marketing . Tim marketing bercerita bahwa proposal tidak pernah sampai ke level CEO, sering kali baru sampai level bawah , tim marketing sudah di jegal ,sehinnga gagal melulu . Tim marketing ini menanyaan kiat apa yg dilakukan oleh bosnya itu? . Sang CEO menjawab singkat ”Give!” give dan give , inilah barang kali yang sering terlupa oleh kita. Kekuatan Sang Maha Kuasa yg mampu membolak balikan hati manusia sering kali tidak pernah kita perhitumgkan.
Dalam prohetic management justru kekuatan inilah menjadi faktor yg harus menjadi perhatian. Salah satu bentuknya adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai Ilahiah tadi dalam konteks hubungan bisnis. Tentu, yg menjadi dasarnya adalah niat yang ikhlas dan berikhtiar yang cerdas, dan ketika sudah berikhtiar berserah dirilah kepada Allah SWT . Jadi, kalaulah berkembang ilmu-ilmu marketing saat tentu hanyalah sebagai sebuah pendekatan saja. Kita tidak perlu sombong dengan ilmu itu , seolah-olah apa yg kita mau dapat kita capai dan pasti bisa kita capai dengan tools marketing yang terkadang sangat kita bangga banggakan, apalgi yang berbau dari asing wallohu alam bisowab. (*)
Berbagi tentang tips dan solusi bagi aktivitas profesional muda dengan nuansa spiritual yang menggugah.
Tampilkan postingan dengan label prophetic management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prophetic management. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Juli 2011
Jumat, 16 April 2010
SUKSES ITU BERAWAL DARI IMPIAN
SUKSES ITU BERAWAL DARI IMPIAN
Oleh-oleh dari kegiatan MABIT (Malam Bina Insan Taqwa) Mahasiswa MABI Yayasan Bakti Insan Bogor, tanggal 25 Juli 2009.
By Agus Siswanto (Sekretaris Yayasan Bakti Insan Bogor)
Banyak cerita maupun nukilan sejarah atau success story dari beragam tokoh bisnis yang ketika mereka ditanya tentang kunci suksesnya adalah karena mereka dulunya punya impian (dream). Karena kata mereka dengan memiliki impian,maka impian itu menjadi selalu terbayang bayang dalam segenap aktivitas mereka, bahkan dikala raga menjadi lemah semangat, maka bayangan impian menjadi pemicu spirit untuk selalu bangkit dan bangkit.
Kisah menarik tentang impian ini, yang kemudian menjadi sebuah sesuatu yang fenomenal ketika seorang Andrea Hirata menuturkannya dalam Trilogi Laskar Pelangi. Dimana dia menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang penuh onak dan duri,beragam haru biru antara kesedihan dan kegembiraan serta semangat yang tidak pernah kendor dalam menghadapi rintangan apapun, karena dia memiliki impian, Sorbone,Edensor dll.
Impian yang senantiasa tervisualisasi, maka secara perlahan-lahan akan termemori dalam Pikiran Bawah Sadar kita ,dan menjadi sebuah data base, sehingga manakala diperlukan oleh pikiran sadar kita, maka file-file tersebut dengan mudah di ”search” dan akan muncul, sehingga dapat menggerakkan organ-organ yang lain untuk ”bangkit” menuju atau meraih impian tersebut. Sehingga dalam banyak kesempatan pada institusi bisnis MLM, senantiasa diajarkan pada langkah pertama mereka bergabung, maka yang harus dimiliki oleh mereka member yang baru, adalah ”dream”, ya mereka harus mengeksiskan ”dream” tersebut secara nyata dan visual dalam bentuk Foto Rumah yang wah, foto mobil yang wah, Foto tujuan Traveling di tempat yang paling eksotis di dunia, dll. Bahkan diajarkan pula agar foto-foto visualisasi atas ”dream”nya mereka ditempatkan ditempat tempat mereka yang paling strategis seperti di kamar pribadi dan tempat-tempat lainnya. Hal ini dilakukan tidak lain dan tidak bukan agar ”dream” tersebut mudah tervisualisasikan dan menjadi daya ungkit semangat/spirit untuk mencapainya.
Berkaca kepada kisah sukses pendidikan ala Rasulullah SAW, sejarah telah membuktikan bahwa di dunia ini generasi beliau, generasi para sahabat, generasi tabiin, dan generasi tabiut tabiin diakui memiliki kualitas sumberdaya insani yang paling unggul, dan bahkan sampai hari kiamat pun tidak akan pernah ada generasi berikutnya yang mampu menggungguli generasi tersebut. Mereka adalah generasi yang memiliki kesuksesan bukan hanya di dunia saja tetapi juga sukses di akhirat, bahkan catatan sukses di dunia mereka sering luput dari perhatian kita padahal fakta menunjukkan sebagai berikut (dikutip dari : spiritualpreneurship.com)
Kekayaan Umar bin Khattab ra
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cash
Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham kurang lebih Rp. 200 Milyar
• Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)
Kekayaan Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar kurang lebih Rp. 60 Milyar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budak
Kekayaan Amr bin Al-Ash ra
• 300 ribu dinar kurang lebih Rp. 360 Milyar
Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
Bukan hanya sahabat utama yang kaya, namun juga rakyatnya hidup berkecukupan
Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas),
• Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
• Pemerintah/masyarakat mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)
Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas)
• Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
• Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)
Jelas sekali bahwa kesuksesan mereka bukan hanya dalam dimensi duniawi saja tapi juga ukrowinya, dan ini terekam dalam Kitab Al Quran, dimana Allah SWT pun meridloi mereka, “Dan orang-orang yang terdahulu dari orang-orang Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada- Nya ( At Taubah : 100).
Dalam konteks ini Rasulullah SAW, telah mengajarkan pula kepada para sahabatnya tentang impian-impian itu, apakah impian tersebut? Impian tertinggi yang merupakan ”Reward” adalah Surga dan impian yang berupa ”punishment” adalah Neraka. Rasulullah SAW dalam setiap kesempatan berinteraksi dengan para sahabatnya senantiasa mengingatkan tentang impian-impain tersebut, bahkan para sahabatpun tervisualisasi dengan sangat gambalangnya tentang Apa itu Surga dan Apa itu Neraka, bagaimana kehidupan di dalamnya, sehingga atas visualisasi yang gamblang tersebut maka mereka menjadi begitu termotivasi untuk meraihnya, dan Rasulullah SAW pun mengajarkan tentang cara,metode,jalan untuk mewujudkan impian tersebut melalui ”sunnah-sunnahnya yang shahih”.
Pada generasi sahabat dan generasi unggul berikutnya, mereka jelas memiliki impian yang nilainya melebihi impian apapun didunia ini, ketika jalan-jalan menuju terwujudnya impain surga itu dicapai dan diraih maka ,dengan sendirinya kesuksesan dunia pun mengikutinya. Karena pada diri insan-insan yang bertaqwa dan komitmen mengikuti sunnah Rasululloh SAW, maka dalam dirinya dengan sendirinya melekat pula karakter-karakter yang menjadi prasyarat untuk mencapai kesuksesan duniawi dalam hal apapun, seperti disiplin,tangguh, pantang menyerah, sungguh-sungguh,kerja keras, istiqomah, syukur dan sabar serta karakter lainnya.
Oleh karena itu maka apabila kita mencari ”modeling” untuk menggapai sukses duniawi dan ukhrowi maka tiada lain adalah pada diri Rasulullah SAW dan para sahabat serta generasi unggulan yang tadi disebutkan, Insya Allah kesuksesan itu dapat kita gapai.amin.
Oleh-oleh dari kegiatan MABIT (Malam Bina Insan Taqwa) Mahasiswa MABI Yayasan Bakti Insan Bogor, tanggal 25 Juli 2009.
By Agus Siswanto (Sekretaris Yayasan Bakti Insan Bogor)
Banyak cerita maupun nukilan sejarah atau success story dari beragam tokoh bisnis yang ketika mereka ditanya tentang kunci suksesnya adalah karena mereka dulunya punya impian (dream). Karena kata mereka dengan memiliki impian,maka impian itu menjadi selalu terbayang bayang dalam segenap aktivitas mereka, bahkan dikala raga menjadi lemah semangat, maka bayangan impian menjadi pemicu spirit untuk selalu bangkit dan bangkit.
Kisah menarik tentang impian ini, yang kemudian menjadi sebuah sesuatu yang fenomenal ketika seorang Andrea Hirata menuturkannya dalam Trilogi Laskar Pelangi. Dimana dia menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang penuh onak dan duri,beragam haru biru antara kesedihan dan kegembiraan serta semangat yang tidak pernah kendor dalam menghadapi rintangan apapun, karena dia memiliki impian, Sorbone,Edensor dll.
Impian yang senantiasa tervisualisasi, maka secara perlahan-lahan akan termemori dalam Pikiran Bawah Sadar kita ,dan menjadi sebuah data base, sehingga manakala diperlukan oleh pikiran sadar kita, maka file-file tersebut dengan mudah di ”search” dan akan muncul, sehingga dapat menggerakkan organ-organ yang lain untuk ”bangkit” menuju atau meraih impian tersebut. Sehingga dalam banyak kesempatan pada institusi bisnis MLM, senantiasa diajarkan pada langkah pertama mereka bergabung, maka yang harus dimiliki oleh mereka member yang baru, adalah ”dream”, ya mereka harus mengeksiskan ”dream” tersebut secara nyata dan visual dalam bentuk Foto Rumah yang wah, foto mobil yang wah, Foto tujuan Traveling di tempat yang paling eksotis di dunia, dll. Bahkan diajarkan pula agar foto-foto visualisasi atas ”dream”nya mereka ditempatkan ditempat tempat mereka yang paling strategis seperti di kamar pribadi dan tempat-tempat lainnya. Hal ini dilakukan tidak lain dan tidak bukan agar ”dream” tersebut mudah tervisualisasikan dan menjadi daya ungkit semangat/spirit untuk mencapainya.
Berkaca kepada kisah sukses pendidikan ala Rasulullah SAW, sejarah telah membuktikan bahwa di dunia ini generasi beliau, generasi para sahabat, generasi tabiin, dan generasi tabiut tabiin diakui memiliki kualitas sumberdaya insani yang paling unggul, dan bahkan sampai hari kiamat pun tidak akan pernah ada generasi berikutnya yang mampu menggungguli generasi tersebut. Mereka adalah generasi yang memiliki kesuksesan bukan hanya di dunia saja tetapi juga sukses di akhirat, bahkan catatan sukses di dunia mereka sering luput dari perhatian kita padahal fakta menunjukkan sebagai berikut (dikutip dari : spiritualpreneurship.com)
Kekayaan Umar bin Khattab ra
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cash
Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham kurang lebih Rp. 200 Milyar
• Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)
Kekayaan Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar kurang lebih Rp. 60 Milyar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budak
Kekayaan Amr bin Al-Ash ra
• 300 ribu dinar kurang lebih Rp. 360 Milyar
Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
Bukan hanya sahabat utama yang kaya, namun juga rakyatnya hidup berkecukupan
Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas),
• Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
• Pemerintah/masyarakat mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)
Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas)
• Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
• Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)
Jelas sekali bahwa kesuksesan mereka bukan hanya dalam dimensi duniawi saja tapi juga ukrowinya, dan ini terekam dalam Kitab Al Quran, dimana Allah SWT pun meridloi mereka, “Dan orang-orang yang terdahulu dari orang-orang Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada- Nya ( At Taubah : 100).
Dalam konteks ini Rasulullah SAW, telah mengajarkan pula kepada para sahabatnya tentang impian-impian itu, apakah impian tersebut? Impian tertinggi yang merupakan ”Reward” adalah Surga dan impian yang berupa ”punishment” adalah Neraka. Rasulullah SAW dalam setiap kesempatan berinteraksi dengan para sahabatnya senantiasa mengingatkan tentang impian-impain tersebut, bahkan para sahabatpun tervisualisasi dengan sangat gambalangnya tentang Apa itu Surga dan Apa itu Neraka, bagaimana kehidupan di dalamnya, sehingga atas visualisasi yang gamblang tersebut maka mereka menjadi begitu termotivasi untuk meraihnya, dan Rasulullah SAW pun mengajarkan tentang cara,metode,jalan untuk mewujudkan impian tersebut melalui ”sunnah-sunnahnya yang shahih”.
Pada generasi sahabat dan generasi unggul berikutnya, mereka jelas memiliki impian yang nilainya melebihi impian apapun didunia ini, ketika jalan-jalan menuju terwujudnya impain surga itu dicapai dan diraih maka ,dengan sendirinya kesuksesan dunia pun mengikutinya. Karena pada diri insan-insan yang bertaqwa dan komitmen mengikuti sunnah Rasululloh SAW, maka dalam dirinya dengan sendirinya melekat pula karakter-karakter yang menjadi prasyarat untuk mencapai kesuksesan duniawi dalam hal apapun, seperti disiplin,tangguh, pantang menyerah, sungguh-sungguh,kerja keras, istiqomah, syukur dan sabar serta karakter lainnya.
Oleh karena itu maka apabila kita mencari ”modeling” untuk menggapai sukses duniawi dan ukhrowi maka tiada lain adalah pada diri Rasulullah SAW dan para sahabat serta generasi unggulan yang tadi disebutkan, Insya Allah kesuksesan itu dapat kita gapai.amin.
THE PROPHETIC MANAGEMENT
THE PROPHETIC MANAGEMET
Satu hal asasi dalam prophetic management bermula dari prinsip ibda bi nafsik, mulai dari diri sendiri, sementara dalam pemahaman konvensional, management adalah sebuah upaya untuk mengarahkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu, berarti management dalam pengertian konvensional selalu melibatkan orang lain atau ada obyek orang lain yang dipengaruhi agar mau bergerak atau termotivasi untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Oleh karena itu dalam management konvensional tidak mempersoalkan kapasitas siapa yang memanage atau manager itu sendiri seperti apa? Bagaimana moralitasnya peduli amat yang penting ketika dia memanage orang-orang yang bersamanya bisa berjalan dengan baik dan tujuan yang telah ditetapkan tercapai dengan baik. Sehingga acuan moralitas pribadi hampir tidak ada pengaruhnya terhadap performance yang bersangkutan. Katakanlah si manager tadi adalah seorang ahli maksiat no problem sepanjang ketika yang bersangkutan mampu menunjukkan kinerjanya dalam organisasi dan mampu membawa orang-orang yang dibawahinya mencapai tujuan organisasi. Sementara Rasul mengajarkan bahwa untuk melakukan perubahan kepada orang lain, haruslah perubahan itu dimulai dari diri sendiri, sehingga beliau mengatakan “ibda binafsik” , dan inilah yang sangat membedakan dengan manajemen konvensional, premisnya sederhana ketika seseorang telah mampu memanage dirinya sendiri sedemikian rupa, maka tentu dia akan lebih mudah memanage orang lain. Memanage diri jauh lebih berat disbanding memanage orang lain, salah satu yang terberatnya adalah ketika seseorang harus berjuang melawan hawa nafsunya sendiri, jelas memerlukan sebuah perjauangan yang tidak ringan. Ketika seseorang sudah terbiasa mengahdapi pertarungan hawa nafsunya sendiri maka dia akan lebih mudah untuk menghadapi pertarungan-pertarungan yang lainnya. Dan ini sudah sangat jelas tergambar dari sejarah para nabi, dimana beliau-beliau sebelum menerapkan segala sesuatu bagi para pengikutnya, maka beliau lah yang pertama kali memberi contoh sehingga hasilnya menjadi sangat efektif.
Fenomena saaat ini begitu banyak buku manajemen yang ditulis para pakar, dengan segudang pendekatan dan teori , hanya saja selalu saja terdapat kelemahan karena mereka tidak menemukan sebuah model yang dapat konsisten menjalankan seluruh teori tersebut, kadang si penulisnya sendiri tidak mampu menjalankan apa yang telah ditulisnya, dia hanya mampu berteori saja tanpa mampu melaksanakan, sehingga ketika dihadapkan kepada masalah-masalah yang riil seringkali mereka menjadi bingung.
Prophetic Management sangat kaya dengan contoh-contoh aplikasi manajerial yang dilakukan secara konsisten antara teori dan praktek yang telah dilakukan oleh para nabi yang mulia.ikuti dalam kajian berikutnya........
Bogor, 16 April 2010
Salam Sukses
Agus Siswanto
Satu hal asasi dalam prophetic management bermula dari prinsip ibda bi nafsik, mulai dari diri sendiri, sementara dalam pemahaman konvensional, management adalah sebuah upaya untuk mengarahkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu, berarti management dalam pengertian konvensional selalu melibatkan orang lain atau ada obyek orang lain yang dipengaruhi agar mau bergerak atau termotivasi untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Oleh karena itu dalam management konvensional tidak mempersoalkan kapasitas siapa yang memanage atau manager itu sendiri seperti apa? Bagaimana moralitasnya peduli amat yang penting ketika dia memanage orang-orang yang bersamanya bisa berjalan dengan baik dan tujuan yang telah ditetapkan tercapai dengan baik. Sehingga acuan moralitas pribadi hampir tidak ada pengaruhnya terhadap performance yang bersangkutan. Katakanlah si manager tadi adalah seorang ahli maksiat no problem sepanjang ketika yang bersangkutan mampu menunjukkan kinerjanya dalam organisasi dan mampu membawa orang-orang yang dibawahinya mencapai tujuan organisasi. Sementara Rasul mengajarkan bahwa untuk melakukan perubahan kepada orang lain, haruslah perubahan itu dimulai dari diri sendiri, sehingga beliau mengatakan “ibda binafsik” , dan inilah yang sangat membedakan dengan manajemen konvensional, premisnya sederhana ketika seseorang telah mampu memanage dirinya sendiri sedemikian rupa, maka tentu dia akan lebih mudah memanage orang lain. Memanage diri jauh lebih berat disbanding memanage orang lain, salah satu yang terberatnya adalah ketika seseorang harus berjuang melawan hawa nafsunya sendiri, jelas memerlukan sebuah perjauangan yang tidak ringan. Ketika seseorang sudah terbiasa mengahdapi pertarungan hawa nafsunya sendiri maka dia akan lebih mudah untuk menghadapi pertarungan-pertarungan yang lainnya. Dan ini sudah sangat jelas tergambar dari sejarah para nabi, dimana beliau-beliau sebelum menerapkan segala sesuatu bagi para pengikutnya, maka beliau lah yang pertama kali memberi contoh sehingga hasilnya menjadi sangat efektif.
Fenomena saaat ini begitu banyak buku manajemen yang ditulis para pakar, dengan segudang pendekatan dan teori , hanya saja selalu saja terdapat kelemahan karena mereka tidak menemukan sebuah model yang dapat konsisten menjalankan seluruh teori tersebut, kadang si penulisnya sendiri tidak mampu menjalankan apa yang telah ditulisnya, dia hanya mampu berteori saja tanpa mampu melaksanakan, sehingga ketika dihadapkan kepada masalah-masalah yang riil seringkali mereka menjadi bingung.
Prophetic Management sangat kaya dengan contoh-contoh aplikasi manajerial yang dilakukan secara konsisten antara teori dan praktek yang telah dilakukan oleh para nabi yang mulia.ikuti dalam kajian berikutnya........
Bogor, 16 April 2010
Salam Sukses
Agus Siswanto
Langganan:
Postingan (Atom)